Waspada Ulat bulu kini mewabah di Tulung Agung Bojonegoro
Ulat bulu di Tulungagung ini secara fisik lebih besar dan berbulu lebih tebal dibanding ulat di daerah Pasuruan maupun Probolinggo. Selain memangsa tanaman buah-buahan seperti jambu, kedondong, dan mangga, ulat sebesar telunjuk orang dewasa itu juga rakus mengunyah daun tumbuhan penghijauan seperti klampis.
![]() |
| Ulat bulu coklat |
Gigitan yang dilakukan secara beramai-ramai itu membuat daun-daun berlubang. Zat hijau menghilang dan akhirnya permukaan daun mengering.
”Serangan ini sudah berjalan 10 harian. Selain merusak juga menjijikkan,”tutur Sumini, 53,warga Dusun Ngasinan, Desa Bendosari, Kecamatan Ngantru kepada wartawan.
Ulat dengan dominasi warna bulu cokelat ini memiliki karakter berkelompok. Di daun, buah, mau pun di batang pohon, mereka selalu bersama. Pada bagian punggung yang dikuasai belantara bulu mencuat bagian mirip pelana kuda. Karena itu, warga setempat menamakannya ulat jaran (Jawa: kuda). Karakter pasif (tidak banyak bergerak) membuat hewan melata ini kerap mengecoh warga yang berada tak jauh darinya.
”Kita baru tahu ada ulat setelah mengamati sungguh-sungguh,” ucap Sumini.
Akibatnya, tidak sedikit warga yang terserang rasa gatal setelah bersentuhan dengan ulat jaran tersebut. Menurut Sumini, sejumlah pria di desa mencoba membasmi perkembang biakan ulat dengan cara membakarnya. Meski berisiko merusak tanaman, panas api bisa membuat ulat mati seketika.
Itu dilakukan setelah tidak seluruh ulat bisa terbunuh dengan racun serangga (insektisida). Khususnya ulat yang berukuran sebesar jari telunjuk. Insektisida hanya membuatnya menggeliat sebentar. Namun, setelah itu bergerak lagi menghabisi buah dan dedaunan.
”Jumlahnya seolah tidak habis- habis,” keluh Sumini.
Meski belum masuk ke rumah- rumah seperti di Kabupaten Probolinggo, serangan ulat bulu ini terjadi pertama kalinya. Kalau pun ada serangan ulat pada buah dan daun, populasinya tidak sedahsyat ini.
”Kita tidak tahu apakah ini pengaruh musim atau memang ada faktor lainnya,”katanya.
Sementara itu, begitu menerima laporan, sejumlah petugas pertanian Kabupaten Tulungagung langsung turun ke lapangan. Koordinator Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung Sugeng mengaku belum bisa memastikan ulat bulu yang ada di Tulungagung sama dengan ulat di wilayah lain.
Ulat Hitam di Bojonegoro
Sedangkan di Bojonegoro, ulat hitam menyerang sejumlah pohon di SDN Ngablak, Desa Ngablak, Kecamatan Dander, Bojonegoro. Selama beberapa hari ini siswa yang terkena ulat menderita gatal-gatal.
”Sekitar 10 teman saya yang tubuhnya terkena ulat mengalami gatal-gatal,” kata seorang siswa kelas V SDN Ngablak, Adi, kemarin.
Gerombolan ulat hitam yang besarnya rata-rata sekitar batangan rokok menempel di sejumlah pepohonan. Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Dinas Pertanian Kecamatan Dander, Qomarudin, yang datang ke lokasi menyatakan, munculnya hama ulat di sejumlah pohon di SDN Ngablak tersebut merupakan peristiwa alam biasa.
Patogen Pembunuh Ampuh Ulat Bulu
Kepala Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB) Malang, Dr Ir Totok Himawan menyatakan bahwa patogen (jamur) yang menyerang kepompong merupakan pembunuh ampuh bagi ulat bulu yang saat ini menyerang perkebunan mangga di Kabupaten Probolinggo.
”Sekarang ini banyak kepompong yang diserang oleh jamur (patogen). Nah, patogen ini yang bisa dimanfaatkan untuk membasmi ulat bulu beserta sel telurnya,” katanya kemarin.
Ia menjelaskan, teknis sederhananya adalah kepompong dikumpulkan dengan jumlah sebanyak-banyaknya. Kemudian dihancurkan dan dicampur dengan air, selanjutnya disemprotkan ke pohon-pohon mangga atau tumbuhan lain yang diperkirakan juga dihuni oleh sel telur ulat bulu.
Sebelum sel-sel telur ulat bulu generasi kedua ini menetas, harus segera disemprot dengan bahan yang diramu dari campuran kepompong yang sudah dihancurkan dan air.
Menurut dia, dalam 3-5 hari ke depan kemungkinan akan dilakukan penyemprotan, karena saat ini masih dalam tahap mengumpulkan petani dan membicarakan teknik percampuran dan penyemprotan dengan patogen, bukan insektisida.
